topantambunan.blogspot.com

January 19th, 2007 by toufan

kini blog topan akan lebih baru, karena sudah pake new blogger,
mungkin kalo masalah tampilan emang masih cupu, tapi kalo konten banyak yang baru kok.
coba aja…
topantambunan.blogspot.com
topantambunan-old.blogspot.com

topan pindah

February 21st, 2006 by toufan

find me ;
http://topantambunan.blogspot.com

Masihkah Emak yang Menyambutku di Pintu Rumah?

January 21st, 2006 by toufan

cerita ini saya ambil dari eramuslim.com
hikmahnya cocok buat anak rantau yang jauh dari ortu :

Masihkah Emak yang Menyambutku di Pintu Rumah?
Oleh: Abu Aufa
15/12/2005 13:24 WIB

Entahlah…
Ini telah kali ke berapa aku tak berada kembali di
sampingnya. Tak ada balasan pelukan yang hangat
dan nyaman setelah punggung tangannya yang keriput
kucium di hari ulang tahunnya. Tak ada pula
sentuhan kasih dari pipi yang banyak digurat garis
ketuaan.

Saat ini, juga tak terdengar canda dan gelak tawa
seperti dulu kami sekeluarga berkumpul bersama.
Duduk mengelilingi sebuah meja yang di atasnya
tersaji hidangan ala kadarnya. Tumpeng nasi kuning
yang dihiasi telur dadar, tempe dan kacang goreng,
irisan mentimun serta beberapa potong ayam bakar.
Setelah usai berdo’a lalu bersama menikmatinya.
Namun, itu semua terjadi ketika aku masih berada
di tengah keluarga. Kini aku dan Emak telah jauh
terpisah oleh bentangan jarak yang ada.

Alhamdulillah…
Allah Ta’ala masih memberikan amanah berupa usia
kepada Emak. Diberikannya kesempatan untuk
menghimpun pahala serta menjalankan fitrah yang
ada pada dirinya. Niscaya, begitu pula yang
dimiliki seluruh ibunda di seluruh dunia. Bahkan
ringkih dan renta tak akan mampu menghalangi cinta
mereka kepada anak-anaknya.

Memang, keikhlasan ibunda bagaikan luasnya
samudera. Mereka rela melepas setiap anak
kandungnya walau harus jauh terpisah. Pun, begitu
juga Emak. Tak masalah baginya, ketika di hari
ulang tahun aku kembali tak berada di tengah
keluarga. Apalagi ia tahu bahwa aku sedang
menuntut ilmu di Negeri Sakura, yang membuatnya
senantiasa bangga. Tercapai sudah harapan agar
setiap anak haruslah lebih pintar dari orang tua.

Namun…
Adakah pula seorang ibunda yang tak bahagia jika
anak yang dicintai selalu berada di dekatnya? Aku
yakin, begitu pula dengan Emak. Jauh di lubuk hati
Emak dan para ibunda, pasti lebih mengharapkan
kehadiran anaknya di tengah keluarga. Tak hanya
hadir ketika di hari ulang tahun saja, tetapi di
setiap saat. Terlebih, ketika penyakit uzur dan
tua yang memang tak ada obatnya telah menghampiri
mereka. Di tengah semakin ketidakberdayaan, hanya
anaklah harapan satu-satunya.

Rasanya perasaan itu sama seperti saat kita kecil
dan juga tak berdaya. Dengan selimut kasih sayang,
didekapnya dengan cinta sang buah hati yang baru
saja menyapa dunia dengan lengking tangisannya.
Ikhlas diberikannya air susu beraroma surga,
tangan yang selalu sigap menyuapkan makanan,
bahkan mata enggan terpejam ketika yang dibelai
justru telah terlelap dalam buaian. Merekalah yang
tak kenal lelah menjaga dan membesarkan darah
dagingnya. Pantaslah karenanya cinta yang deras
mengalir diganjar dengan surga.

Aaah…
Entah mengapa, semakin lama aku meninggalkan Emak
bagaikan menumpuk rasa bersalah. Emak-lah yang
dulu pernah beruah air mata ketika mengantar aku
di Bandara Sukarno-Hatta. Emak juga yang bersuka
cita ketika aku dan keluarga bisa pulang kampung
dalam beberapa kesempatan yang ada. Emak pula yang
selalu kuharapkan dari bola matanya jelas
terpancar pendar cinta.

Ketika semakin berbilang usia Emak, seketika itu
pula pertanyaan yang sama selalu menyeruak,

"Ketika aku pulang nanti, masihkah Emak yang
menyambutku di pintu rumah?"

Mak…
Ketika tangan ini menulis, sesungguhnya jiwa dan
raga bagaikan ingin terbang mengangkasa. Lalu
tersungkur, luruhkan rindu dalam pelukan kasih dan
cinta. Hapuskanlah rindu anakmu ini, Mak. Rindu
yang telah terkuras dalam jutaan butir air mata.

Mak…
Saat aku pulang, kuingin pula engkau yang pertama
kali merengkuh tubuh anakmu. Anak yang sering
sibuk hingga melalaikan do’a terhatur untukmu.
Anak yang tak pernah membahagiakanmu, Mak. Bahkan
anakmu ini tak pernah bisa lagi menghadiri hari
ulang tahunmu.

Mak…
Benarkah, ketika seorang anak rindu kepada orang
tuanya, sesungguhnya orang tuanyalah yang lebih
merindukan kehadiran anak itu di sisinya?

Percayalah, aku nanti pulang, Mak. Pasti aku akan
pulang. Walau gelar, uang atau kemewahan tak mampu
kupersembahkan, biarkanlah di sisa usiamu dapat
kucurahkan kasih sayang.

Mak…
Saat aku pulang nanti, sambutlah aku di pintu
rumah. Lalu baluri dengan do’a dan senandung
pengantar tidur. Atau, maukah engkau yang
mendengar kisah pengalamanku? Dan kemudian
tidurlah di pangkuan anakmu, seperti yang sering
engkau lakukan padaku ketika masa kecilku dulu.

Selamat ulang tahun, Mak. Semoga Allah selalu
menyayangimu.

ALlahu a’lamu bish-shawaab.

-Abu Aufa-
(untuk Emak yang berulang tahun 15 Desember)

Penulis tergabung dalam organisasi kepenulisan FLP
Jepang

Manusia 1

January 20th, 2006 by toufan

kadang kala manusia baru akan sadar dia salah
ketika dia telah mendapatkan kesesatan…

terkadang manusia begitu menghargai orang lain
setelah dia kehilangan orang lain…

terkadang manusia baru tau pentingnya harta
ketika dia sedang kehilangan harta

terkadang manusia akan membutuhkan kessehatan
ketika dia ditimpa sakit

terkadang manusia baru sadar kesempatannya hidup didunia
setelah dia meninggalkan dunia….

jangan sampai kita menjadi orang bodoh yang hanya akan sadar
ketika kita benar-benar sadar, tapi…